#24 Menanamkan Nilai-Nilai Anti Korupsi
Alhamdulillah, Allahumma Shali ‘Alaa Muhammadin Wa ‘Alaa
Aali Muhammad.
“Rasulullah mengutuk orang yang
menyuap dan orang yang disuap” [Shahih diriwayatkan Imam Abu Daud dalam
Sunannya, no. 3580]
"Penyuap
dan orang yang menerima suap berada dalam neraka" (HR. Thabrani dalam
Al-Kabir).
“Wahai Ka’ab bin Ujrah,
sesungguhnya daging yang tumbuh dari barang haram tidak akan tumbuh kecuali
neraka paling berhak dengannya”. [Shahih diriwayatkan Imam at-Tirmidzi
dalam Sunannya 614I ]
Korupsi dipandang sebagai
kejahatan luar biasa (extra ordinary crime) yang oleh karena itu memerlukan
upaya luar biasa pula untuk memberantasnya. Menurut laporan terbaru dari
Transparency International (TI) yang menyebut bahwa rangking Indonesia masih
menempati posisi bawah untuk negara terbersih dari korupsi. Tahun 2014,
Indonesia berada diperingkat 107 dari 177 bersama Argentina. Menempati
peringkat ke-107, artinya Indonesia memiliki skor 34 dengan skala 0-100. Bahkan
tahun 1999, Indonesia pernah menempati 5 besar negara paling korup didunia.
Sedangkan 3 besar negara dengan predikat paling bersih korupsi adalah Denmark
(92), Selandia Baru (91), dan Finlandia (89).
Sudah menjadi rahasia umum bahwa
di lingkungan
sekolah pun korupsi masih tetap dengan mudah ditemui. Contoh kecil korupsi yang dilakukan oleh
peserta didik misalkan dengan ‘korupsi mencontek’. Mereka rela melakukan segala
sesuatu asalkan nilainya bagus, tanpa melihat proses memperoleh nilai itu
didapat dari mencontek ataukah kejujuran. Dunia pendidikan kita (masih) tidak
menghargai proses, sehingga para pelakunya pun lebih mementingkan sifat
pragmatisme, kemudian yang baik dan yang kurang baik akan tercampur, dan
pastinya yang baik lama-lama akan terseret ke dalam kondisi yang kurang baik.
Dalam
menanamkan
nilai-nilai antikorupsi, tentunya kita harus terbiasa dengan sikap
ketauladanan. Anak-anak tidak akan membutuhkan nasihat yang terlalu banyak. Justru anak-anak akan lebih
‘kena’ dengan ketauladanan dibandingkan dengan nasihat tanpa tindakan. Kita
biasakan untuk menanyakan kepada anak ‘nak, tidak apa-apa mendapat nilai 6,
asalkan didapat dari kejujuran’ kita tinggalkan kebiasaan kita yang selalu
menuntut kepada anak harus mendapatkan nilai bagus, tanpa melihat proses usaha
mereka mendapatkannya. Kita harus belajar dari orang-orang besar dalam mendidik
anak-anak mereka, atau belajar dari negara-negara besar dalam membenahi sistem
pendidikan dan pemerintahannya, tapi harus tetap di ‘bumikan’ ke Indonesia.
Seperti ucapan Tan Malaka, ‘Belajarlah dari Barat, tetapi jangan peniru Barat.
Melainkan
jadilah murid dari Timur yang cerdas’.
Disarikan dari Tulisan Arief
Saefudin (Juara
II Lomba Karya Tulis Kategori Umum, Festival Antikorupsi 2015) yang berjudul Pendidikan Dan Budaya Antikorupsi Di Rumah Hingga
Sekolah ---- Selamat Hari Anti Korupsi 09 Desember 2017
Komentar
Posting Komentar